Diana Thamrin
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain
Universitas Kristen Petra - Surabaya
e-mail: dianath@petra.ac.id
ABSTRAK
Kota
Probolinggo merupakan salah satu kota administratif penting di Jawa di jaman
Kolonial Belanda. Jauh sebelum kekuasaan Belanda, orang Tionghoa membawa
tradisi dan agama mereka dan berdiam di bagian Timur kota sepanjang sungai
Banger yang dahulu merupakan akses utama distribusi bahan perdagangan. Di jaman
VOC, mayoritas orang Tionghoa memainkan peranan penting dalam perdagangan dan
menjadi perantara bagi pedagang Belanda dan pribumi. Interaksi dengan orang
Eropa maupun pribumi merubah gaya hidup mereka sehingga terjadi percampuran
budaya antara budaya asal mereka, dengan lingkungan pribumi maupun orang
Belanda dan secara tidak langsung mempengaruhi tata bangunan rumah mereka.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dan bertujuan
untuk mendeskripsikan tata bangunan rumah-rumah tinggal tersebut secara
keseluruhan akibat aktivitas perdagangan dan mengetahui bagaimana perwujudan
pengaruh budaya-budaya yang ada di lingkungan orang Tionghoa, baik dari budaya
Tionghoa, Belanda (Eropa) dan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
aktivitas perdagangan dan jarak dari jalur perdagangan mempengaruhi bentuk
bangunan dan organisasi ruang, sedangkan elemen interior maupun elemen
dekoratif dari masing-masing budaya mengalami akulturasi dan pengembangan.
Meski telah terjadi akulturasi budaya pada tata bangunan rumah tinggal, budaya
kolonial tetap menjadi budaya yang dominan, dan budaya Tionghoa seperti hirarki
dalam rumah tangga maupun hormat pada leluhur tetap dipertahankan sebagai identitas.
Kata
kunci: tata bangunan, Probolinggo,
Pecinan, kolonial Belanda, desain interior
ABSTRACT
Probolinggo was one of the important
administrative trade cities in Java. Long before the Dutch reign, Chinese
diasporas had settled along the Banger river in the east of the city bringing
along with them their traditions and religion. As Probolinggo gained
significance as a trading centre, most of the Chinese played important roles in
the city’s trade as mediators between the Dutch and the local people. The
interaction between the different races and cultures and their trading
activites had fomed unique characterisitics in the homes of the Chinese. Using
the qualitative method of research which is descriptive in character, this
research aims to observe and describe the building pattern of Chinese homes
during the Dutch colonial period in Probolinggo city as a result of trading
activities and describe the influences of the different cultures in the these
homes. Results revealed that trading activites and distance from the trading
channel influenced the architectural form and room organization of the
dwellings. The interior and decorative elements have undergone acculturation
and development. Though the Colonial Dutch culture dominates other cultures in
influencing the pattern of dwellings, the Chinese culture is still maintained
as an identity.
I. pendahuluan
Kota Probolinggo merupakan salah satu kota administratif
Belanda pada era pemerintahan VOC, yang terletak di pesisir sebelah Timur Jawa
Timur dan merupakan daerah rendah di tepi selat Madura. Sebelum tahun 1743 di
luar pos dagang Belanda dan inti kota setempat, terdapat daerah hunian orang
Tionghoa pendatang dan peranakan di kota-kota pantai Utara. Orang-orang
Tionghoa ini memainkan peran utama dalam pasar domestik, biasanya mereka juga
membangun hubungan mutualistik dengan pe-dagang Eropa dan pribumi. Pada masa
pemerintahan Daendels (1808-1811), kota Probolinggo pernah dijual sebagai tanah
pertikelir kepada seorang pedagang Tionghoa kaya raya Kapiten Han Tik Ko atau
“Babah Tumenggung Probolinggo” dari Pasu-ruan. Pemerintahannya
berakhir dengan terbunuhnya Han Tik Ko dalam suatu pemberontakan rakyat di
tahun 1813 dan kembali ke tangan kekuasaan VOC. Kemudian di antara tahun
1850-1880an, di kota Probolinggo terjadi proses pengembangan dan perluasan
pemerintahan Belanda yang berkembang secara simetri ke kawasan Barat, Timur dan
Selatan. Seperti halnya semua kota-kota kolonial di Jawa, di Probolinggo daerah
perumahannya juga dipisahkan berdasarkan etnis menurut undang-undang Wijen-stelstel.
Kawasan Barat ditempatkan kampung Arab dan kampung Melayu. Di pusat kota adalah
kawasan Eropa.
Sebelah Timur kawasan Eropa adalah Pecinan atau kampung
Tionghoa terdapat sungai Banger yang melintas ke arah Timur Laut dan dahulu
merupakan jalur kapal perdagangan. Sekarang sungai ini sudah lenyap. Di sebelah
sungai Banger adalah kawasan perdagangan bagi orang Tionghoa, sedangkan di
se-belah Timur dari sungai tersebut adalah kawasan permukiman orang Tionghoa
dengan kelenteng yang terletak di ujung Utara daerah tersebut. Letak strategis
klenteng Liong Tjwan Bio yang menghadap ke Selatan di tengah jalan antara dua
pohon hayat tersebut menjadi bukti nyata bahwa orang Tionghoa di kota
Probolinggo pada saat itu masih menganut kepercayaan leluhur dan mempertahankan
tradisi budaya mereka. Orang Tionghoa pendatang maupun peranakan berkembang dan
berjaya melalui perda-gangan materi-materi pokok seperti tembakau, tekstil,
kopi, kecap dan gula dengan orang Belanda maupun penduduk setempat.
Hingga tahun 1905, penduduk kota Probolinggo berjumlah
sekitar 15.000 orang, yang terdiri dari 600 orang Eropa (Belanda), 1200 orang
Tionghoa, 350 orang Arab, dan sisanya adalah orang pribumi dan sejumlah kecil
orang Madura. Jumlah dan peran orang Tionghoa dalam ekonomi kota probolinggo
menghasilkan beberapa hunian-hunian baru di sekitar akhir abad 19 hingga awal
abad 20 di Pecinan kota Probolinggo. Terjadi sebuah per-campuran budaya dalam
kehidupan berumah tangga orang Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang di
benua kolonial Barat di Jawa, yang masih menganut kepercayaan mereka dan
mempertahankan tradisi mereka dan hal ini tercermin pada rumah tinggal mereka
tersebut. Pola permukiman orang Tionghoa menunjukkan ciri-ciri khusus akibat
dari sebuah proses adaptasi antara kepercayaan dan budaya orang Tionghoa dari
negara asal mereka dengan budaya masyarakat kolonial Belanda, yaitu budaya
Eropa dan budaya Jawa setempat. Aktivitas dagang merupakan salah satu faktor
yang menyebabkan percampuran budaya tersebut yang tercermin pola rumah tinggal
di pecinaan yang dekat dengan pasar. Akibat dari percampuran budaya dan
aktivitas dagang orang Tionghoa pada saat itu, rumah tinggal Pecinan di kota
Probolinggo menjadi sebuah obyek yang menarik untuk diteliti.
A. Bentuk Bangunan Kota Probolinggo
Sebelum pertengahan abad
19, Probolinggo me-rupakan kota yang belum begitu dikenal mungkin karena
infrastruktur bagian Timur Jawa masih kurang baik sehingga daerahnya belum
begitu berkembang. Morfologi kota baru dapat terlihat pada tahun 1850 setelah
pemerintahan kolonial Belanda mengenal kota tersebut lebih lanjut dan menyadari
potensinya, mengingat letak kotanya yang strategis di pesisir pantai Utara.
Seiring dengan perluasan pemerintahan Belanda dan perkembangan perdagangan di
kota tersebut, gaya desain kolonial Belanda yang telah mewarnai kota-kota di
Jawa Timur seperti Surabaya dan Pasuruan berkembang pada bangunan-bangunan
publik maupun hunian orang Eropa di kota Probolinggo. Secara keseluruhan bentuk
dan struktur kota Probolinggo sejak jaman dulu sudah dianggap istime-wa karena
jalannya lebar-lebar dan saling memotong secara tegak lurus. Sampai akhir
kekuasaan kolonial Belanda tahun 1940-an, Probolinggo mengalami per-luasan
dalam dua tahapan. Tahap pertama merupakan perluasan bagian kota sebelah Timur
dan Barat dari Heernstraat (Jl. Suroyo), yang merupakan sumbu utama kota.
Perluasan tersebut menjadikan badan kota menjadi kompak dengan bentuk segi
empat berukuran kurang lebih 160 hektar. Perluasan inti kota tersebut dilakukan
karena pada tahun 1850 dijadikan ibukota Karesidenan Probolinggo. Tahap kedua
terjadi setelah tahun 1880 yang memakan lahan seluas 25 hektar di sebelah Timur
kota yang diperuntukan bagi pemukiman penduduk pribumi. Barangkali hanya kota
Probolinggo di era kolonial yang mengintegrasikan kawasan hunian pribumi dalam
perencanaan kota secara sadar. Kawasan ini dibangun karena banyaknya tenaga
buruh yang dibutuhkan dan industi gula dan pabrik-pabrik beras di sekeliling
kota Probolinggo dan semakin ramainya kota tersebut sebagai pelabuhan angkutan
hasil bumi dari sudut Timur pulau Jawa yang baru dieksploitasi setelah tahun
1900-an.
Seperti kota-kota kolonial Jawa yang lain,
daerah perumahan juga dipisahkan menurut etnis sesuai undang-undang Wijkenstelsel,
dimana daerah jantung kota adalah kawasan orang Eropa, di sisi Timurnya adalah
kawasan orang Tionghoa sedangkan di ujung Timur adalah kawasan orang pribumi.
Orang Eropa berinteraksi dan berhubungan baik dengan sebagian pejabat-pejabat
Tionghoa yang berperan sebagai pe-dagang perantara antara orang pribumi di
kawasan Timur yang menghasilkan dagangan dan orang Eropa yang mengkonsumsinya.
Akibatnya daerah Pecinan menjadi pusat perdagangan yang ramai dimana ter-dapat
pasar, rumah toko dan rumah tinggal yang dijadikan tempat perdangangan
sehari-hari. Oleh karena banyaknya interaksi dengan orang Eropa, seiring dengan
waktu, image dan karakteristik hunian kawasan Eropa juga dibawa oleh
pedagang Tionghoa ke dalam Pecinan. Pada saat itu, gaya desain yang
mewarnai kawasan perkantoran dan hunian orang Eropa adalah gaya Indische
Empire. Namun gaya Indische Empire ini mengalami penyesuaian
karakter dan bentuk seiring dengan perkembangan gaya kolonial modern menjelang
abad 20 meskipun program ruang dan bentuk denah secara prinsip masih dipertahankan.
Penyederhanaan bentuk inilah yang mewarnai sejumlah rumah tinggal daerah
pecinaan karena baru dibangun sekitar awal tahun 1990-an. Contohnya,
kolom-kolom klasik berubah menjadi kolom besi cor, atap sosoran memakai seng
gelombang dan lebih ringan. Perkembangan kota Probolinggo setelah tahun 1900-an
dapat dikatakan tidak memiliki perubahan yang cukup signikan karena dipandang
masih berfungsi dengan baik sehingga tidak diperlukan rencana pengembangan kota
yang mendesak (Handinoto, 2000:3-12, 51-65).
B. Daerah Pecinan Kota Probolinggo
Nama Probolinggo dalam
bahasa Tiongkok ada-lah pangyue (庞越) yang berbunyi seperti ”Banger,” nama Probolinggo di
zaman Majapahit, jauh sebelum Belanda menguasai daerah tersebut. Oleh sebab
itu, Pecinan di kota Probolinggo dapat dianggap sudah terbentuk sebelum era
kolonial Belanda. Hal ini juga dibuktikan oleh letak klenteng pertamanya yang
strategis dan masih dipertahankan hingga sekarang. Lain dengan Pecinan
kota-kota besar di pulau Jawa pada era kolonial Belanda, Pecinan di kota
Pro-bolinggo tampak terintergrasi dengan baik dalam tata ruang kotanya. Daerah
Pecinan terletak di sepanjang tepi Timur dan Barat sungai Banger yang sekarang
sudah hilang. Di tepi Barat sungai adalah Jl. Dr. Soetomo yang merupakan
kawasan perdagangan orang Tionghoa sedangkan sebelah Timur adalah Jl. W.R.
Supratman yang merupakan kawasan hunian orang Tionghoa. Di ujung Utara adalah
klenteng Liong Tjwan Bio, klenteng pertama orang Tionghoa di Probolinggo.
Seperti yang telah disebutkan diatas, letaknya sangat unik karena berada di
ujung jalan antara dua pohon hayat dan bangunannya menghadap ke Selatan yang
jelas dirancang dengan sengaja.
Letak sungai dan jalan utama yang tegak lurus garis pantai
dimana kanan kirinya dibangun dengan bangunan yang sangat rapat serta klenteng
Mazu yang terletak di ujungnya adalah pola klasik kota-kota pesisir Guangdong
dan Fujian di Tiongkok seperti yang telah dibahas sebelumnya. Pola ruang
seperti ini dibawa oleh orang Tionghoa pendatang ke pulau Jawa. Sekarang ini
masih tersisa bentuk-bentuk arsi-tektur Tiongkok dengan gevel dan atap
melengkung meskipun sudah banyak yang menghilang. Orang Tionghoa di Probolinggo
sudah mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat dan kebudayaan Barat
(Handinoto, 2000:59-60). Hal ini tercermin pada pola ruang dan bentuk rumah
tinggal mereka.
HASIL DAN
PEMBAHASAN RUMAH TINGGAL DI PECINAN
Pembahasan berikut ini merupakan data yang diperoleh dari survey
lapangan. Obyek survey adalah rumah-rumah tinggal Pecinan yang
dibangun di era kolonial Belanda (awal tahun 1900) yang masih ter-sisa hingga
sekarang. Untuk memastikan bangunan-bangunan tersebut layak untuk diteliti
karena tidak banyak mengalami perubahan sejak era kolonial, peneliti melakukan
observasi terlebih dahulu terhadap keadaan fisiknya dan juga melalui wawancara
peng-huni yang paling senior di rumah-rumah tersebut. Rumah-rumah yang diteliti
adalah rumah yang letaknya tegak lurus dengan klenteng dan pasar tradisional,
yaitu jalan Dr. Soetomo, A.Yani, Brigjen Katamso,
WR Supratman dan Letjen
Suprapto.
WR Supratman dan Letjen
Suprapto.
Sumber: dokumentasi pribadi, 2008
Gambar 1. Peta daerah hunian Pecinan kota Probolinggo
Daerah
ini dahulu mengelilingi sungai Banger, rute perdagangan orang Eropa dengan
orang Tiong-hoa, yang sekarang sudah punah. Data lapangan yang diobservasi
adalah data yang masuk dalam ruang lingkup penelitian ini, yaitu data fisik termasuk
ben-tuk arsitektural terutama fasad bangunan maupun bentuk dan organisasi
ruang, serta data non-fisik yaitu latar belakang berdirinya bangunan maupun
penghuni. Observasi
lapangan yang telah dilakukan mem-berikan gambaran umum tentang bentuk bangunan
rumah tinggal yang khusus dihuni oleh orang Tionghoa di kota Probolinggo.
Bentuk arsitektural rumah-rumah tinggal orang Tionghoa di kota Probolinggo
terdiri dari tiga tipe yaitu pertama, tipe rumah yang fasad bangunannya
simetris, memiliki tiga pintu dan tidak banyak me-nunjukkan langgam desain
Kolonial pada struktur bangunannya. Contohnya adalah rumah-rumah di se-panjang
jalan Brigjen Katamso. Sesuai dengan ke-saksian yang diberikan dari pihak para
penghuni, rumah-rumah di daerah ini dihuni oleh orang Tiong-hoa totok yang
dagangannya lebih bersifat indivi-dualis. Mereka antara lain adalah pengusaha
yang memiliki home industry atau toko di pasar tradisional setempat.
Kedua, tipe yang memiliki fasad bangunan dengan gaya Indisch empire yang
lebih banyak me-nunjukkan langgam desain Eropa yang diadaptasikan dengan iklim
lokal, dan juga memiliki sebuah ruang kantor di teras depan yang luas.
Contohnya adalah rumah-rumah di jalan Dr. Soetomo, Letjen Suprapto dan A.Yani.
Desain Eropa diterapkan pada arched windows di atas teras depan rumah
jalan Dr. Soetomo 56 dan pada tegel bermotif art deco di atas teras
depan rumah jalan Letjen Suprapto 50. Penghuni rumah yang dirancang dengan
kantor depan ini kebanyakan adalah pedagang-pedagang kelas atas yang memiliki
relasi mutualistik dengan orang Be-landa pada era kolonial. Kantor dan teras
rumah digu-nakan untuk diskusi bisnis dengan orang Belanda, bahkan rumahpun
sering dihuni oleh tamu Belanda. Ketiga, seperti tipe kedua, tipe ketiga
memiliki fasad bangunan yang menunjukkan ciri-ciri desain Eropa modern namun
tidak memilki teras atau serambi terbuka di luar, meskipun terdapat kantor di
bagian depan. Fasad bangunan rumah tipe ini kembar dengan yang sebelahnya namun
berlawanan arah seperti gambaran mirror.
Yang unik
adalah meskipun rumahnya terpisah di dalam, fasad bangunan seolah-olah
menunjukkan bahwa dua rumah tersebut hanya terdiri dari satu rumah. Tipe ketiga
ini bersifat sangat tertutup dari luar, lain dengan tipe kedua. Seperti tipe
kedua, fasad tipe ketiga ini menunjukkan langgam desain Eropa seperti dormer
dan clerestory windows. Rumah tipe ini dimiliki oleh
keluarga-keluarga yang mengelola bisnis yang sama sehingga hidup dan bekerja
dengan saling berdampingan.
Bentuk arsitektural
rumah-rumah tinggal di daerah Pecinan ini juga berkaitan langsung dengan
pengorganisasian ruangnya. Pada rumah tinggal tipe pertama yang memiliki tiga
pintu tidak terdapat sebuah kantor di teras depan, sedangkan rumah tinggal gaya
eropa modern dengan adaptasi lokal terdapat sebuah kantor di teras depan. Untuk
rumah tinggal tipe pertama, organisasi ruang secara kese-luruhan menunjukkan
ciri-ciri yang sama, sebagai berikut:
- Terdapat teras depan yang agak sempit
- Memasuki bangunan selalu terdapat ruang di sebelah kanan dan kiri yang digunakan sebagai ruang tamu.
- Selalu terdapat sebuah ruang tengah yang diapit oleh ruang-ruang tidur di sebelah kanan dan kiri yang disusun secara simetris.
- Di ruang tengah umumnya terdapat sebuah altar leluhur yang berhadapan langsung dengan pintu masuk tengah. Terdapat juga altar leluhur di bagian belakang ruang tengah namun tetap diarahkan ke pintu masuk.
Bagian belakang ruang tengah berhubungan dengan
teras belakang atau samping yang terdapat area-area servis seperti kamar mandi,
WC, dapur dan kamar pembantu.


Sumber: dokumentasi pribadi, 2008
Gambar 2. Organisasi rumah
tinggal tipe pertama
Pada rumah tinggal tipe
kedua yang fasadnya lebih banyak menunjukan langgam desain Eropa modern,
organisasi ruangnya sama dengan tipe per-tama namun memiliki sebuah kantor dan
teras yang luas di depan. Sedangkan rumah tipe ke 3 memiliki organisasi ruang
dengan ciri-ciri sebagai berikut:
- Memiliki kantor depan dengan ruang menerima tamu di sebelahnya yang lebih tertutup namun bila pagar dibuka, menjadi lebih terbuka dan berfungsi seperti serambi untuk duduk-duduk dan berkomunikasi dengan tamu.
- Memiliki sebuah koridor di samping kiri atau kanan dimana di sisi lainnya terdapat ruang-ruang tidur yang berjejer ke belakang.
- Koridor berakhir pada sebuah ruang yang berisi altar leluhur yang meskipun letaknya di belakang, berhadapan langsung dengan pintu masuk.
- Sebelah ruang altar leluhur di belakang ruang tidur terdapat ruang makan yang memiliki akses ke halaman belakang yang merupakan service area seperti dapur, kamar mandi, WC, kamar pembantu, area jemuran.


Sumber: dokumentasi pribadi, 2008
Gambar 3. Organisasi ruang di rumah tinggal tipe kedua
dan ketiga, yaitu tipe Eropa modern
Hasil analisis menunjukkan bahwa rumah tinggal tipe 1
banyak terdapat di daerah yang lebih dekat dengan sungai Banger yang dulu
merupakan akses perdagangan. Rumah-rumah tersebut yang terletak di sekitar
jalan Brigjen Katamso dan WR. Supratman merupakan daerah Pecinan yang paling
lama sehing-ga bentuk arsitektural masih tradisional yang menun-jukkan bahwa
pengaruh budaya Tiongkok masih sangat kuat sebelum direnovasi.
Bangunan-bangunan tipe ini juga tidak memiliki kantor
depan dan teras atau ruang tamu yang luas karena dekat dengan jalur pedagangan.
Sedangkan rumah-rumah yang lebih jauh dari sungai Banger yang didirikan seiring
dengan perluasan Pecinan adalah rumah-rumah tipe 2 dan 3. Bentuk arsitektural
pada rumah-rumah tersebut lebih menunjukkan gaya Eropa dan letaknya yang jauh
dari jalur perdagangan memerlukan kantor depan dan teras atau ruang tamu yang
luas untuk mengelola bisnis di rumah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
aktivitas perdagangan telah mempengaruhi tata bangunan rumah tinggal di Pecinan
kota Probolinggo.
Pengaruh Budaya
Tiongkok pada Tata Bangunan Rumah
Pengaruh budaya Tionghoa lebih banyak ditemu-kan pada
rumah tipe pertama yang memiliki tiga pintu. Atap eksisting yang melekung ke
atas di bagian samping merupakan pengaruh dari atap jenis swallow tail di
Tiongkok. Atap swallow tail ini di Tiongkok berfungsi untuk menahan arah
angin kencang yang dapat merusak atap, namun kemudian menjadi se-buah tradisi
yang diturunkan dalam rumah-rumah Tionghoa, meskipun ada sebuah peraturan di
kerajaan Tiongkok bahwa bentuk atap seperti ini hanya dapat digunakan pada
bangunan kerajaan dan pemerin-tahan. Namun, tradisi ini dibawa oleh orang-orang
Tiongkok pendatang di Probolinggo sehingga muncul di rumah-rumah tersebut
meskipun angin dan hujan di Probolinggo tidak begitu berpengaruh besar seperti
di negara Tiongkok. Namun, berdasarkan wawancara dengan penghuni,
klenteng-klenteng di kota Jawa selalu memakai bentuk atap ekor walet karena
diper-caya mengandung makna simbolis yaitu ”mengarah ke surga” karena bentuk
yang melengkung ke arah langit, sehingga mencerminkan nilai keagungan dari
bangunan tersebut, selain itu juga menunjukkan status kehormatan keluarga.
Fasad yang menunjukkan tiga buah pintu di antara empat buah pilar juga mirip
dengan rumah sederhana tiga jian (ruang) yang terdapat di negara
Tiongkok. Menurut orang Tionghoa, jumlah jian yang ganjil dimana bagian
tengah menjadi terpusat membawa keberuntungan bagi bangunan tersebut sedangkan
jumlah jian yang genap dianggap mem-bawa sial.
Di rumah tinggal tipe pertama ini di Probolinggo, jumlah jian
yang ganjil sangat tampak pada fasad bangunan. Rumah Tionghoa selalu terasa
tertutup dari luar, lain dengan bangunan Jawa dan Belanda, dan ini juga
ditunjukan dengan teras yang lebih sempit pada bangunan rumah tinggal tipe ini.
Pintu masuk yang berjumlah tiga ini juga merupakan sebuah cerminan dari
bangunan-bangunan kerajaan, gerbang kota maupun hunian biasa. Tiga pintu
me-nunjukkan hierarki dalam sirkulasi bangunan Tiong-hoa, dimana pintu tengah
biasanya hanya dilewati oleh kaisar dan ratunya sedangkan pintu-pintu sam-ping
diakses oleh prajurit dan dayangnya. Organisasi ruang bangunan Tiongkok selalu
berangkat dari barisan empat kolom yang memben-tuk tiga jian (ruang) di
antara kolom-kolom tersebut. Memperluas bangunan berarti menambahkan jumlah jian
pada kedua sisi samping Barat-Timur atau Utara- Selatan sehingga jumlah jian
keseluruhan tetap ganjil karena
merupakan angka
keberuntungan pada sebuah rumah.
merupakan angka
keberuntungan pada sebuah rumah.
Gambar 6. Organisasi ruang berdasarkan barisan empat
pilar membentuk jian ganjil
Organisasi ruang bangunan Tiongkok juga berangkat dari prinsip
axial planning yang berkaitan dengan kosmologi Tionghoa. Titik mulai
aksis merupakan area yang paling penting, biasanya berupa courtyard atau
taman yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan kekeluargaan. Ruang-ruang
disusun secara simetris antara sumbu Utara-Selatan. Pada rumah-rumah tinggal
Pecinan yang diteliti, ruang yang menjadi pusat ritual keluarga merupakan
sebuah ruang tengah di bagian belakang yang ditandai dengan sebuah altar
leluhur. Selain itu, rumah Tiong-kok umumnya menghadap ke Selatan dimana
bangunan utamanya terletak di ujung utara. Rumah tinggal Pecinan era kolonial
Belanda di kota Probolinggo menghadap ke Timur atau barat, di mana garis atap
sejajar dengan sumbu Utara-Selatan. Perbedaan ini, menurut peneliti, ada dua
kemung-kinan. Yang pertama adalah dikarenakan batasan pola pemukiman yang
diizinkan oleh pemerintahan kolo-nial Belanda di kota Probolinggo pada waktu
itu sehingga tidak dimungkinkan untuk membangun rumah supaya menghadap ke
selatan. Hal ini dapat didukung oleh pola kota Probolinggo yang terdiri dari
petak-petak dari wilayah Eropa di jalan Suroyo hingga ke wilayah Pecinan.


Sumber: (a) Liu, 1989 : 28, (b) dokumentasi pribadi, 2008 Gambar
7. (a) Axial-planning pada rumah tinggal Tionghoa, (b) Penerapan axial-planning
pada organi-sasi ruang rumah Pecinan Probolinggo
Seperti rumah Tiongkok, organisasi ruang di-kenal berjenis
“satu terang dua gelap” dengan kons-truksi tiga jian (modul) yang
dibangun di atas barisan empat kolom, dimana ruang tengah yang “terang” memisahkan
dua ruang tidur yang “gelap.” Namun, jika ruang tengah di rumah Tiongkok
berhubungan dengan luar melalui sebuah pintu di depan, ruang tengah di rumah
tinggal Pecinan di era kolonial kota Probolinggo berhubungan dengan luar
melalui pintu depan maupun belakang ke teras-teras yang luas. Hal ini mungkin
karena adanya pengaruh bangunan kolonial Belanda di dalamnya dimana ruang-ruang
servis seperti dapur, WC dan kamar mandi diletakkan di belakang dan diperlukan
sebuah akses dari dalam rumah langsung ke area servis.
Pintu tengah yang
langsung berhubungan dengan sebuah lorong di ruang tengah yang menunju langsung
ke altar leluhur juga menunjukkan sirkulasi utama. Pintu-pintu di kanan kiri
menuju kepada sebuah ruang yang lain yang mengharuskan orang memutar terlebih
dahulu untuk menuju ke lorong altar utama juga menunjukkan hirarki dalam masyarakat
dan kosmologi orang Tionghoa. Sirkulasi yang demikian juga bermanfaat menurut fengshui
karena dengan kehadiran pintu di samping kiri dan kanan, semua ruangan
dilalui oleh energi qi.
(b) Penerapan prinsip “dua gelap, satu terang” pada
rumah tinggal Pecinan Probolinggo
Ruang tengah ini umumnya paling lebar
dan tinggi dan selalu terdapat sebuah altar leluhur yang dihadapkan langsung ke
pintu masuk. Seperti di Tiongkok, ruang tengah ini melambangkan konti-nuitas
yang memiliki sebuah area untuk meja altar leluhur yang panjang dan selalu
dihadapkan ke pintu masuk. Di tempat ini terdapat bermacam ornamen makhluk
sakral, patung dewa-dewi dan perlengkapan-perlengkapan upacara tradisional.
Altar leluhur di jalan Brigjen Katamso 34 terdapat ornamen-ornamen mahluk
simbolis seperti kilin, naga dan burung phoenix. Tradisi pola
tata letak ruang seperti ini sangat mirip dengan pola peletakan altar utama di
kelenteng-kelenteng Kong Hu Zhu di Indonesia. Di kelenteng Liong Tjwan Bio kota
Probolinggo misal-nya, altar utama terdapat di ruang tengah yang diapit oleh
dua ruang di sebelah kanan dan kiri seperti
halnya di rumah-rumah
tinggal yang telah diteliti. 
(a)
Sumber: (a) Knapp, 2004:
85 (b) dokumentasi pribadi, 2009 Gambar 9. (a) Ruang tengah sebagai ruang
sakral di rumah Tionghoa, (b) Peletakan altar leluhur di ruang tengah di rumah
Pecinan Probolinggo
(b)
Penerapan budaya Tionghoa pada elemen pem-bentuk ruang
seperti lantai, dinding dan plafon tidak begitu signifikan pada rumah-rumah
tinggal yang menjadi obyek penelitian. Namun, jendela di atas pintu yang
dikenal sebagai bovenlight di era kolonial menunjukkan motif geomattric
lattice yang sering ditemui di pintu dan jendela bangunan Tionghoa.
(a)
(b)
Sumber: (a)
http://misskandu.com/images/190_114-1.JPG, (b) dokumentasi pribadi, 2009 Gambar
10. Pengaruh budaya Tiongkok pada elemen pintu
Geometric lattice ini
dipercaya dapat mengen-dalikan “bentuk angin” yang masuk, yaitu menyaring
energi-energi “jahat” yang menyebabkan ketidakber-untungan sehingga rumah
menjadi aman bagi peng-huninya. Bentuk geometric lattice sangat variatif
di Tiongkok, antara lain adalah bentuk karakter Tiong-hoa yang disebut “wan”
yang berarti panjang umur. Tidak semua motif geometric lattice memiliki
makna yang diketahui oleh masyarakat Tionghoa secara umum. Motif yang ditemukan
di atas pintu-pintu rumah tinggal yang telah diteliti umumnya berbentuk
dua buah jajaran genjang
yang saling mengikat di tengah. Berdasarkan wawancara pada pihak peng-huni,
bagi mereka motif ini merupakan simbol dari yin-yang, bisa juga memiliki
arti double happiness yaitu, kebahagiaan ganda yang dihasilkan dari
sebuah ikatan pernikahan di dalam rumah tersebut. Meja altar leluhur memiliki
dua susun yang menunjukkan hierarki kesucian. Meja yang lebih tinggi digunakan
untuk menempatkan barang-barang tetap seperti foto leluhur, pot hio,
tembaga dan benda-benda yang terdapat inskripsi tentang leluhur yang dihormati.
Meja yang lebih rendah digunakan untuk meletakan barang-barang persembahan
tambahan berupa buah dan uang kertas.
dua buah jajaran genjang
yang saling mengikat di tengah. Berdasarkan wawancara pada pihak peng-huni,
bagi mereka motif ini merupakan simbol dari yin-yang, bisa juga memiliki
arti double happiness yaitu, kebahagiaan ganda yang dihasilkan dari
sebuah ikatan pernikahan di dalam rumah tersebut. Meja altar leluhur memiliki
dua susun yang menunjukkan hierarki kesucian. Meja yang lebih tinggi digunakan
untuk menempatkan barang-barang tetap seperti foto leluhur, pot hio,
tembaga dan benda-benda yang terdapat inskripsi tentang leluhur yang dihormati.
Meja yang lebih rendah digunakan untuk meletakan barang-barang persembahan
tambahan berupa buah dan uang kertas.
Meja
altar selalu ber-bentuk simetris sesuai dengan prinsip desain Tiong-kok yang balance
dan yin yang. Pada dinding di atas meja leluhur biasanya terdapat
tulisan-tulisan suci, namun di rumah tinggal yang telah diteliti,
tulisan-tulisan tersebut telah dilepaskan oleh penghuni.

(a)

(b)
Sumber: (a) Liu, 1989, (b)
dokumentasi pribadi, 2009 Gambar 11. Pengaruh budaya Tionghoa pada meja
altar leluhur di ruang tengah
Meja altar leluhur ini terdapat
banyak ukiran-ukiran simbol Tionghoa yang melambangkan makna-makna tertentu.
Beberapa contoh dari semuanya ada-lah mahluk-mahluk yang dianggap suci dan
sering terdapat di klenteng-klenteng Kong Hu Zhu di Jawa seperti kilin, naga
dan phoenix. Ukiran mahluk kilin dapat dilihat di samping
kedua sisi meja. Nilai-nilai yang terkandung pada simbol ini: kebahagiaan yang
sempurna, panjang umur, kemegahan, kemuliaan, ke-suburan dan kebijaksanaan.
Mahluk ini melambang-kan nilai-nilai kebaikan, kelembutan dalam tiap aspek
kehidupan dan semua kebaikan pada hewan mamalia (Tatt 1993:114-119).
Sumber: (a)
www.foo-dogs.com/newfoo/eLions/fd1.htm, (b) dokumentasi pribadi, 2009 Gambar
12. Simbol kilin pada meja altar leluhur
Simbol naga atau lung juga
terdapat pada meja altar leluhur yang melambangkan kemakmuran dan keperkasaan.
Pasangannya adalah burung phoenix yang disebut fenghuang yang dipercaya
membawa kemakmuran, kedamaian dan kenyamanan. Dalam
Taoisme, simbol phoenix mampu
melawan keja-hatan/kuasa kegelapan sehingga menjadi mahluk yang sering digambar
di meja altar (Tatt 1993:40-55).
(a)
(b)
Sumber: (a)
http://www.china-family-adventure.com, (b) dokumentasi pribadi, 2009 Gambar
13. Motif naga dan burung phoenix pada meja altar
Pengaruh
Budaya Kolonial pada Tata Bangunan Rumah
Sumber: (a) Mouzon et. al,
2004, (b) dokumentasi pribadi, 2008 Gambar 14. Penerapan dutch gable pada
atap rumah tinggal Pecinan Probolinggo
Rumah tipe kedua ini menunjukkan
ciri-ciri gaya Indische dengan kolom-kolom yang memanjang dari teras
yang luas ke atap yang besar. Sedangkan rumah tipe ke tiga lebih menunjukkan
gaya Eropa modern masa peralihan. Penggunaan clerestory windows atau
jendela pada sisi atas sebuah dinding yang tinggi pada rumah tinggal juga
merupakan sebuah ciri-ciri dari gaya klasik yang sering digunakan pada bangunan
kolonial Belanda di Indonesia. Fungsi dari clerestory windows adalah untuk
memberi pencahayaan alami pada ruangan yang gelap. Penerapan aedicule,
yaitu jendela atau pintu yang diapit oleh kolom dan entablature terlihat
tapi uniknya adalah aedicule tersbut bersifat ”tempelan”, yaitu hanya
sebagai elemen dekoratif eksterior dan tidak diaplikasikan ke struktur
bangunannya. Pada rumah tinggal tipe eropa ini, ada yang memiliki teras luas,
namun ada juga yang tidak memilki teras.
Sumber: dokumentasi pribadi, 2008
Gambar 15. Penerapan langgam
desain kolonial Belanda pada rumah tinggal
Rumah tinggal tipe Eropa yang
tidak memilki teras adalah rumah yang tidak memilki ruang tengah, melainkan
koridor samping. Sedangkan rumah yang memilki ruang tengah terdapat sebuah
teras yang besar yang seringkali berfungsi untuk menerima tamu perdagangan.
Teras yang luas merupakan sebuah ciri khas dari bangunan kolonial Belanda yang
telah diadaptasikan dengan iklim lokal, untuk memberi penghawaan alami yang
sejuk pada bangunan.
(a)
(b)
Sumber: (a) Mouzon et. al,
2004:17, (b) dokumentasi pribadi, 2008 Gambar 16. (a) Prinsip organisasi
ruang klasik melalui aksis, (b) Penerapan prinsip organisasi ruang klasik pada
rumah tinggal Pecinan Probolinggo
Kedua jenis organisasi ruang
dimana yang pertama memiliki lorong tengah sedangkan yang kedua memiliki lorong
samping memiliki kesamaan yaitu terciptanya sebuah lorong yang membentuk pola
sirkulasi yang linear. Pola sirkulasi ini merupakan salah satu ciri-ciri dari
gaya klasik Eropa. Sebagai perbandingan, pola seperti ini sama dengan bangunan
rumah tinggal Pecinan di Pattani. Pengaruh kolonial Belanda juga terdapat pada
elemen interior khususnya pada lantai dan plafon. Lantai yang digunakan
sebagian besar adalah ubin dengan motif bunga dan sulur-sulur geometris.
Motif-motif seperti ini merupakan ciri-ciri dari langgam art-deco, yang
merupakan kembangan dari gaya art nouveau yang telah disederhanakan ke
arah bentuk-bentuk geometris. Lantai seperti ini sering digunakan pada bangunan
kolonial Belanda seperti pada kantor pos pusat di kota Surabaya.
(b)
Sumber: (a) Kocher, 1952 (b) dokumentasi pribadi, 2009 Gambar
17. Penerapan dinding dado kayu pada elemen interior rumah kolonial
Di rumah-rumah tinggal Pecinan era kolonial Belanda,
dinding merupakan elemen interior yang cenderung hanya dicat dan tidak
menonjolkan karak-ter khusus yang dapat menjadi obyek pembahasan. Namun, salah
satu rumah tinggal memiliki suasana interior yang menyerupai suasana interior
yang terdapat di rumah tinggal Inggris pada abad 18-19 yang mendapatkan
pengaruh kolonial Belanda (Kocher, 1952). Suasana tersebut diciptakan oleh
ke-hadiran dado kayu, yaitu dinding kayu yang ting-ginya hanya sekitar
satu meter dari lantai dimana di bagian atasnya adalah tembok biasa. Dado kayu
berfungsi untuk menghangatkan ruang dan juga untuk melindungi dinding dari
pergeseran perabot yang menempel pada dinding.
Seng merupakan bahan elemen interior maupun eksterior yang
sering digunakan dalam bangunan kolonial Belanda di Indonesia. Contoh yang
sangat signifikan di kota Probolinggo adalah gedung gereja (GPIB) kota
Probolinggo yang lebih dikenal dengan julukan ”Gereja Merah.” Pada rumah-rumah
tinggal yang diteliti, plafon menggunakan seng yang ber-tektur garis-garis
maupun dengan ukiran gaya Eropa.
Elemen pintu juga menunjukkan pengaruh budaya kolonial
Belanda. Pintu dengan lubang hawa atau bovenlight sebagai pendukung cross-ventilation
dirancang dalam bangunan tropis lembab di budaya Indis.
Sumber: dokumentasi pribadi, 2009 Gambar
18. Pengembangan ciri-ciri dutch door pada pintu ruang tidur
Model pintu dengan empat daun pintu dimana yang bagian
depan lebih pendek dari belakang dan keduanya digunakan sesuai dengan fungsi
ruangnya merupakan pengembangan ciri-ciri dutch door. Pintu krepyak ini
disebut sebagai pintu gaya landhuis di Indonesia pada era kolonial
Belanda sekitar tahun 1920. Sebagian besar perabot pada rumah-rumah yang
diteliti telah banyak diperbarui, hanya tersisa sedikit saja yang masih
digunakan sedangkan sisanya ke-banyakan telah dijual atau ditumpuk di gudang.
Hanya beberapa perabot saja yang dapat dianalisis. Berdasarkan pengamatan dan
analisis, perabot akti-vitas sehari-hari seperti meja makan, lemari dan kursi
menunjukkan ciri-ciri desain Eropa yang telah dikem-bangkan kembali oleh orang
Belanda dengan meng-gunakan bahan-bahan lokal seperti kayu jati dan anyaman
rotan. Gaya desain Eropa terlihat dari langgam-langgam yang terdapat pada kaki
kursi dan meja seperti kaki kursi Louis XIV zaman Rococo, barley
twist era William and Mary, cabriole leg, Spanish diagonal
trestles dan ornamen-ornamen empire style. Langgam-langgam desain
tersebut telah disederhanakan dengan sandaran yang lebih polos dan posisi
elemen tidak sesuai aturan gaya jaman dahulu mungkin karena keterbatasan
pengetahuan pekerja maupun keterbatasan bahan yang tersedia.

Sumber: dokumentasi pribadi,
2009 Gambar 19. Penerapan elemen Eropa pada perabot rumah tinggal
Salah satu perabot yang cukup menonjol adalah sebuah lemari
yang besar dimana dibagian tengah terdapat sebuah sofa yang menjorok keluar.
Ber-dasarkan kenangan pihak penghuni, perabot ini merupakan salah satu jenis
perabot yang sangat digemari oleh masyarakat Tionghoa yang dekat dengan orang
Belanda pada tahun 1900-an, dan selalu dapat ditemukan di rumah-rumah kolonial
yang mewah. Perabot tersebut menunjukkan nilai mahal dan berkelas pada zaman
itu. Lemari ini berbahan dasar kayu dengan sofa upholstery kain berudu
dan selalu ditempatkan di ruang tamu atau ruang keluarga.


Sumber : dokumentasi pribadi,
2009
Gambar 20. Perabot rumah
tangga ciri khas era kolonial Belanda di kota Probolinggo
Pengaruh Budaya Lokal pada Tata Bangunan Rumah
Pengaruh
budaya Jawa atau lokal sangat terasa dengan adanya kehadiran teras dengan dasar
atap yang menjorok keluar pada rumah tinggal yang telah dijadikan objek
penelitian. Kehadiran ruang semi-terbuka ini pada fasade bangunan
merupakan adap-tasi terhadap iklim tropis di Jawa yang selalu hadir dalam
bangunan tradisional Jawa. Atap yang men-jorok keluar di teras sebelum menghindari
sinar matahari untuk masuk ke dalam bangunan secara langsung. Hal ini juga
tercermin pada rumah tinggal tipe Eropa meskipun fasade bangunan tidak
simetris.
Kehadiran sebuah teras di rumah tipe Eropa juga
menunjukkan pengaruh Jawa pada fasade bangunan maupun pada organisasi
ruangnya. Dalam rumah tradisional Jawa, pendhapa merupakan sebuah area
semi-terbuka dengan atap joglo yang terletak di bagian depan gugusan. Bangunan
ini merupakan daerah umum rumah tangga, sebuah tempat untuk pertemuan-pertemuan
sosial dan pergelaran-perge-laran upacara. Pada rumah-rumah tinggal yang
diteliti khususnya rumah-rumah Eropa yang memiliki sebuah kantor di depan,
fungsi teras identik dengan pen-dhapa di rumah Jawa untuk menerima tamu
dan mengadakan acara-acara ramah tamah. Oleh sebab itu, kehadiran teras yang
terdapat perabot untuk menyambut tamu merupakan wujud dari pengaruh budaya Jawa
yang selalu mengadakan kegiatan ramah tamah di area pendhapa.
Pengaruh Jawa tidak hanya diterapkan pada area
teras namun juga pada zoning organisasi ruangnya. Area pendhapa, identik
dengan area teras kantor yang bersifat publik, area pringgitan dan emperan
identik dengan ruang tamu dalam yang bersifat semi-publik, dalem dan senthong
identik dengan ruang-ruang tidur dan area altar leluhur yang bersifat
privat, sedangkan area servis seperti gudang, kamar mandi, WC dan dapur di
bagian paling belakang. Hanya saja, area dalem tidak dipisah-pisah
dengan dinding tertutup seperti di rumah tradisional Jawa. Daerah senthong tengah
pada rumah tradisional Jawa dianggap area sakral karena merupakan daerah
pemujaan Dewi Sri. Makna sakral ruang ini juga diaplikasikan pada rumah tinggal
di Pecinan Probolinggo dimana altar leluhur diletakkan pada bagian tengah
belakang ruang. Perbedaannya adalah altar leluhur tidak bersifat ter-tutup
seperti di senthong tengah karena kepercayaan Kong Hu Zhu mengharuskan
altar dihadapkan lang-sung ke alam yaitu ke arah pintu masuk yang menda-patkan
aliran qi dari feng shui yang paling kuat dari seluruh bangunan.

Sumber: dokumentasi pribadi, 2009
Gambar 21. Ornamen Jawa pada elemen dekoratif dengan
bahan kayu lokal kayu jati yang dipelitur
Pengaruh budaya Jawa pada elemen interior tidak begitu
dominan dibandingkan dengan pengaruh dari Belanda maupun Tiongkok. Pengaruh
budaya lokal lebih berorientasi pada penggunaan bahan-bahan lokal seperti kayu
dan batu pada elemen din-ding dan perabot. Pengaruh Jawa dapat dilihat dari
ukiran sulur-sulur daun. Meskipun gaya perabot banyak menunjukkan pengaruh
Eropa dan Modern, pengaruh lokal tercermin pada bahan kayu jati dan anyaman
rotan yang dipelitur.
SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan percampuran budaya diatas, dapat
diketahui bahwa tata bangunan rumah tinggal Pecinan kota Probolinggo secara
fisik lebih banyak mencerminkan kebudayaan kolonial Belanda yang diadaptasikan
dengan budaya lokal bila diban-dingkan dengan budaya Tionghoa pada bentuk
arsitektural, pola organisasi ruang dan elemen interior. Namun tradisi budaya
Tionghoa dalam kepercayaan mereka khususnya terhadap agama Kong Hu Zhu,
hierarki dalam keluarga dan kehormatan pada leluhur tetap dipertahankan dalam
kehidupan ber-umah tangga. Selain pengaruh gaya hidup orang Eropa dalam
peranakan Tionghoa, penggunaan tata bangunan rumah kolonial Belanda yang
diadaptasikan dengan budaya lokal juga digunakan demi membentuk hubungan
mutualistik untuk kepentingan perdagangan sebagai sumber nafkah keluarga. Rumah
tinggal yang memiliki fasad bangunan Eropa dengan teras yang luas juga
mencerminkan status dan kebanggaan keluarga, sebagai sebuah cerminan dan
prinsip hidup orang Tionghoa. Selain itu, tata bangunan rumah tinggal secara
prinsip telah mengalami akulturasi budaya namun secara fisik lebih banyak
mencerminkan kebudayaan kolonial Belanda yang diadaptasikan dengan budaya lokal
bila dibandingkan dengan budaya Tionghoa. Hal ini akibat perubahan gaya hidup
di zaman kolonial dan aktivitas perdagangan dengan orang Eropa dan pribumi. Namun
identitas Tionghoa tetap dipertahankan melalui tradisi budaya Tionghoa seperti
tradisi agama Kong Hu Zhu, hierarki dalam keluarga dan kehormatan pada leluhur.
Kenyataan ini sesuai dengan pemahaman Koentjaraningrat (2007) mengenai
kebudayaan orang Tionghoa di masyarakat kolonial, orang Tionghoa tidak
terkecuali orang totok tetapi juga orang peranakan tetap selalu berusaha untuk
memelihara identifikasi Tionghoa mereka dan tidak ingin disamakan dengan masyarakat
Eropa maupun pribumi Indonesia.
REFERENSI
Handinoto.
Juli. 1997. Bentuk dan Struktur Kota Pro-bolinggo Tipologi Sebuah Kota
Adminstratif Belanda. Jurnal Dimensi Arsitektur, 23/Ars, 32-45
Handinoto.
2000. Perkembangan Kota dan Arsitektur di Pasuruan dan Probolinggo pada
Jaman Kolonial (1800-1940) (Sebuah Perbandingan). Laporan Penelitian,
Universitas Kristen Petra, Surabaya.
Koentjaraningrat.
2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Knapp,
Ronald G. 1990. The Chinese House-Craft, Symbol and the Folk Tradition. Hong
Kong: Oxford University Press.
Knapp,
Ronald G. 2004. Chinese Houses The Archi-tectural Heritage of a Nation. Singapore:
Tuttle Publishing Periplus.
Kocher,
Lawrence. 1952. Architectural Report: Palace of the Governors of Virginia
Block 20 Building 3. Colonial Williamsburg Foun-dation Library Research
Report Series – 0133. Virginia: Colonial Williamsburg Foundation Library.
Liu, Laurance G. 1989. Chinese Architecture. London:
Academy Editions.
Mouzon, Stephen A. et. al. 2004. Traditional Construction
Patterns. New York: McGraw Hill. Whiton, Sherrill et al. 2002. Interior
Design and Decoration Fifth Edition. New Jersey: Prentice Hall.
http://misskandu.com/images/190_114-1.JPG
http://www.china-family-adventure.com
www.foo-dogs.com/newfoo/eLions/fd1.htm
http://www.china-family-adventure.com
0 komentar:
Posting Komentar